Wednesday, April 13, 2011

ATURAN PERGAULAN LELAKI DAN WANITA MENURUT ISLAM


Fenomena Mencengangkan!

Pada tahun 2006 Synovate melakukan penelitian tentang fenomena seks bebas di kalangan remaja. Penelitian dilakukan kepada 450 responden putra-putri usia 15-24 tahun di empat kota besar; Jakarta, Bandung, Medan dan Surabaya. Hasilnya cukup mencengangkan! Robby Susatyo—Manager Director Synovate—mengemukakan data berikut ini:

  1. Sekitar 16 % remaja di empat kota itu mengaku sudah berhubungan intim saat berusia antara 13-15 tahun.
  2. 44 % responden lainnya mengaku mulai ‘mencicipi’ seks sejak usia 16-18 tahun. Sampai disini kita dapat menghitung bahwa 50 % responden mengaku telah berhubungan seks saat mereka belum lagi lepas akil baligh.
  3. Sekitar 35 % responden mengaku mengenal seks pertama kali dari filem porno. Sisanya mengaku mengetahui seks dari pengalaman sesama teman.
  4. 40 % responden mengaku pertama kali melakukan hubungan seks di rumah mereka; 26 % mengaku senang melakukannya di tempat kos; 26 % lainnya senang melakukannya di kamar hotel.

Sangat mengejutkan. Inilah yang terjadi pada sebahagian remaja di negera ini. Kita tidak tahu persis fakta sesungguhnya; namun tentu saja kita berharap mudah-mudahan kenyataan yang sebenarnya tidak separah yang dikemukakan hasil penelitian.

Guna menekan dan mempersempit ruang gerak budaya permisifisme, menurut saya tidak ada pilihan lain, kecuali berusaha menegakkan dan menjunjung tinggi akhlak Islam. Untuk itu setiap kita hendaknya merasa bertanggung jawab untuk mewujudkannya.

Tips-tips Islam tentang pergaulan

Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (sempurna). Agama mulia ini diturunkan dari Allah Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui tentang selok belok ciptaan-Nya. Dia turunkan ketetapan syariat agar manusia hidup tenteram dan teratur.

Diantara aturan yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia adalah aturan mengenai tata cara pergaulan antara lelaki dan wanita. Berikut panduan yang harus diperhatikan oleh setiap muslim agar mereka terhindar dari perbuatan zina yang tercela:


  • [1] Hendaknya setiap muslim menjaga pandangan matanya dari melihat lawan jenis secara berlebihan. Dengan kata lain hendaknya dihindarkan berpandangan mata secara bebas. Perhatikanlah firman Allah berikut ini,

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka…katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman; hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya…”

(QS. 24: 30-31).

Awal dorongan syahwat adalah dengan melihat. Karena itu jagalah mata agar terhindar dari tipu daya syaitan. Tentang hal ini Rasulullah bersabda,

“Wahai Ali, janganlah engkau iringkan satu pandangan (kepada wanita yang bukan mahram) dengan pandangan lain, karena pandangan yang pertama itu (halal) bagimu, tetapi tidak yang kedua!” (HR. Abu Daud).


  • [2] Hendaknya setiap muslim menjaga auratnya masing-masing dengan cara berbusana islami. Secara khusus bagi wanita Allah SWT berfirman,

“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. 24: 31).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan juga kepada istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. 33: 59)

Dalam hal menjaga aurat, Nabi menegaskan sebuah tata krama yang harus diperhatikan, beliau bersabda:

“Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki berselimut dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berselimut dengan sesama perempuan dalam satu kain.” (HR. Muslim)


  • [3] Tidak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan diri pada perbuatan zina (QS. 17: 32) misalnya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Nabi bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahramnya) karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaithan (HR. Ahmad).


  • [4] menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang bisa ‘membangkitkan selera’. Arahan mengenai hal ini kita temukan dalam firman Allah,

“Hai para istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara(melembutkan suara) hingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang ma’ruf.” (QS. 33: 31)

Berkaitan dengan suara perempuan Ibnu Katsir menyatakan, “Perempuan dilarang berbicara dengan laki-laki asing (non mahram) dengan ucapan lunak sebagaimana dia berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3)


  • [5] hindarilah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, termasuk berjabatan tangan sebagaimana dicontohkan Nabi saw,

“Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita.” (HR. Malik, Tirmizi dan Nasa’i).

Dalam keterangan lain disebutkan, “Tak pernah tangan Rasulullah menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini dilakukan Nabi tentu saja untuk memberikan teladan kepada umatnya agar melakukan tindakan preventif sebagai upaya penjagaan hati dari bisikan syaithan.Wallahu a’lam.

Selain dua hadits di atas ada pernyataan Nabi yang demikian tegas dalam hal ini, beliau bersabda:

“Seseorang dari kamu lebih baik ditikam kepalanya dengan jarum dari besi daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani).


  • [6] hendaknya tidak melakukan ikhtilat, yakni berbaur antara lelaki dengan wanita dalam satu tempat. Hal ini diungkapkan Abu Asied, “Rasulullah saw pernah keluar dari masjid dan pada saat itu bercampur baur laki-laki dan wanita di jalan, maka beliau berkata: “Mundurlah kalian (kaum wanita), bukan untuk kalian bahagian tengah jalan; bagian kalian adalah pinggir jalan (HR. Abu Dawud).

Selain itu Ibnu Umar berkata, “Rasulullah melarang laki-laki berjalan diantara dua wanita.” (HR. Abu Daud).


Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa lelaki dan wanita memang harus menjaga batasan dalam pergaulan. Dengan begitu akan terhindarlah hal-hal yang tidak diharapkan. Tapi nampaknya panduan pergaulan ini belum sepenuhnya difahami oleh sebagian orang. Karena itu menjadi tanggung jawab kita menasihati mereka dengan baik. Tentu saja ini harus kita awali dari diri kita masing-masing.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjauhkannya dari perbuatan tercela dan perbuatan yang tidak terpuji. Amin.


Sumber:

Modul Paket Studi Islam Khairu Ummah, Drs. Ahmad Yani, LPPD Khairu Ummah: Jakarta Pusat

Etika Islam, Miftah Faridl, Pustaka: Bandung

Tarbiyatun Nisa, Ishlah No. 2/Th. I/Syawal 1413 H


Editor: 'Abid Sakina

Monday, April 11, 2011

Menteri Luar Negara Austria gesa sekatan ke atas Gaza dihentikan

Isnin , 11/04/2011 - Menteri Luar Negara Austria, Michael Spindelegger menggesa agar sekatan ke atas Gaza yang telah berlangsung selama 4 tahun dihentikan segera bagi menamatkan kesengsaraan yang dialami oleh penduduk Gaza.

Spindelegger yang tiba di Gaza melalui Mesir pada Rabu lalu berucap dalam satu sidang media yang dibuat di Ibupejabat UNRWA bahawa sekatan tersebut sepatutnya ditamatkan sekarang kerana penduduk Gaza telah cukup sengsara.

Selepas menghadiri beberapa mesyuarat di Gaza, beliau berpendapat bahawa Kesatuan Eropah (EU) sepatutnya mengambil inisiatif khusus untuk menamatkan sekatan tersebut. Katanya lagi, Negara-negara EU perlu mencapai kata sepakat berhubung penderitaan terus-terusan yang dialami oleh penduduk Gaza.

sumber : http://www.palestine-info.co.uk/en/
penterjemah : salwa

kredit;  http://palestinkini.info/

Friday, April 1, 2011

April Fool: Antara Barat dan Keparat


“Kawan saya ni memang hidup cara Barat. Biar pun baik hatinya, tapi akhirnya bercerai juga dengan isteri. Apa nasihat yang patut diberi kepada orang macam ni, ustaz?” tanya salah seorang hadirin dalam program ceramah saya.

“Hidup cara Barat itu tidak menjadi punca masalah, jika yang dimaksudkan itu ialah bercakap bahasa Inggeris, makan makanan Eropah atau berpakaian mengikut format orang sana,” saya cuba menyuluh perspektif.

Di Barat sendiri, jumlah mereka yang memeluk Islam cukup tinggi. Jika Islam bertentangan dengan Barat, tentu sulit untuk orang Barat menerima Islam.

“Maka apa yang diperlukan oleh sahabat tuan itu, ialah meninggalkan dosa-dosa yang dianggap Barat, serta menyuntik kesedaran tentang persoalan hidup ini untuk apa. Sebagaimana yang kita bincangkan sebentar tadi,” saya menyudahkan jawapan.

Seorang Barat yang memeluk Islam, akan terus bercakap bahasa Barat, makan makanan Barat, beribu bapakan orang Barat, beradik beradikkan manusia Barat, dan terus menjadi Muslim yang tulen di Negara Barat. Apa yang ditinggalkan hanyalah bahasa carut dalam kerosakan budaya Barat, makanan haram dalam hidangan Barat, dan mengenepikan perbezaan aqidah ibu bapa dan adik beradik dalam hubungan sosial. Itu sahaja.

Seseorang boleh menjadi moden tanpa perlu menjadi Barat. Seseorang itu juga boleh menjadi Barat tanpa perlu menjadi Keparat!

BARAT DAN KEPARAT

Ya, jika ahli politik seperti Ataturk keliru di antara proses modernisasi (modernization) dengan proses pembaratan (westernization), kita pula ramai yang keliru di antara Barat dengan Keparat.

Ramai yang cuba untuk meniru kehidupan Barat berubah menjadi Keparat. Malah kerana ‘yang mengikut’ selalunya lebih teruk dari ‘yang diikut’, kita menjadi lebih Keparat dari Barat. Entah kenapa, benda yang elok-elok dari Barat tidak hendak diikut. Yang busuk-busuk dan keparat itu juga yang didambakan.

Malah yang Kristian pun ramai juga yang keliru antara Kristian dan Barat. Kristian adalah agama yang lahir di Timur, tetapi ada pula yang bertaqlid dengan agama Kristian supaya ‘menjadi Barat’, malah memperalatkan agama Kristian untuk menjustifikasikan perbuatan keparat sesetengah mereka.

Kelemahan jati diri bangsa kita yang mengkeparatkan diri untuk kelihatan Barat, menyebabkan saya hilang upaya untuk mengulas tentang budaya April Fool. Tidak perlulah dibahas-bahaskan sangat latar belakang sejarahnya, mana yang betul, mana yang salah. Huraian tentang sejarah April Fool itu sendiri pun banyak yang fool.

Jelasnya ia fool!

Terungkap pada sabda Nabi SAW:

“Kamu akan mengikuti sunnah umat sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehinggakan jika mereka memasuki lubang biawak (dhab) nescaya kamu akan mengikuti mereka. Sahabat bertanya: Adakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani, wahai Rasulullah? Sabda Baginda SAW: Ya, siapa lagi kalau bukan mereka?”
[Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim]



ABU SAIF @ www.saifulislam.com
68000 Ampang

[boleh baca komen2 di artikel ini untuk penjelasan sejarah April Fool]

Zahar : Polisi baru Mesir untuk Palestin

Khamis , 31/03/2011 – Delegasi Hamas pada hari Selasa (29 Mac) telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Mesri, Dr. Nabil Arabi, untuk membincangkan peranan Mesir ke dalam landasan yang betul berkaitan isu Palestin, sempadan Rafah dan fail rekonsiliasi.

Delegasi itu memuji berkenaan pendirian kementerian Arab terhadap serangan Zionis ke atas Gaza, dan kerajaan baru yang strategik dari peringkat nasional, Arab dan Islam. Semasa lawatan ke Kaherah ini, mereka dapat mengesan semangat dan polisi baru yang bakal muncul beberapa hari lagi.

Dr. Mahmoud Zahar, ahli badan politik Hamas, dan Dr. Khalil El-Hayyah, selepas pertemuan mereka dengan Menteri Luar Mesir berkata : “kami meletakkan janji-janji yang banyak bahawa Kerajaan Mesir akan meneliti dan menangani isu Palestin, rekonsiliasi dan rakyatnya. Kami juga bersetuju dalam banyak perkara, termasuklah tindakan yang akan dikenakan ke atas PA Fatah dan badan Palestin di Ramallah, agar kita dapat mencapai rekonsiliasi.”

sumber : http://www.palestine-info.info/ar/
penterjemah : Azleen

Kredit: http://palestinkini.info/

Thursday, March 24, 2011

Lelaki Solat Pakai Jeans, Wanita Tanpa Telekung

Saya berkunjung ke Jakarta. Kebetulan disapa sekumpulan cewek ala-ala Bunga Citra Lestari. Berpakaian dengan mini skirtnya. Rambut curl. Ada yang hanya berbaju tali gantung. Dengan High heel nya. Seolah-olah saya sedang menyaksikan Drama Sinetron Bawang Merah Bawang Putih.

“Permisi Mas…di mana tempatnya Musalla orang solat?” Tanya salah seorang cewek kepada saya. Mungkin barangkali mereka sangkakan saya ini orang Indonesia. Mahu sahaja saya beritahu saya ini bukan Ashraff Sinclair. Tapi cuma Asyraf imam kampung.

“Oh..di sebelah sana..belakang parkir kereta” Saya menjawab berbahasa indonesia yang terkeluar dari skema Dewan Bahasa Dan Pustaka Indonesia. Mereka tertawa kecil dengan jawapan saya. Bersama saya teman seorang mahasiswa di salah sebuah Universitas di Jakarta. Dia memberitahu saya bahawa, budaya orang di Indonesia berbeza dengan di Malaysia. Tidak menjadi suatu mustahil apabila seorang wanita yang tidak menutup aurat masuk ke Surau dan memakai telekung yang disediakan lalu mengerjakan solat. Malah majoritinya tanpa segan silu. Walaupun ada pertanyaan di benak hati saya, namun saya melihat ianya dari sudut positif. MEREKA TIDAK TINGGALKAN SOLAT!!..

Saya berkunjung di Brunei. Dalam satu Program perkhemahan bersama remaja. Apabila tiba waktu solat, saya dijemput mengimamkan solat. Dibelakang saya ramai remaja lelaki dan perempuan. Yang lelaki memakai jubah kebanyakkannya. Saya sangat kagum. Namun selesai salam dan berpisah untuk ke ruang makan, kebanyakkan si lelaki menanggalkan Jubah mereka dan mengenakan seluar pendek. Walaupun tidak semua. Namun ianya satu lagi persoalan kepada saya. Walaupun begitu saya masih mengambil yang positif. Dalam persoalan ibadah, MEREKA MEMENTINGKAN SUNNAH!!..

Saya berkunjung Ke Time Square Kuala Lumpur. Tanah Airku. Ketika melalui surau di tingkat 8, ada sekelompok remaja lelaki dan perempuan sedang menunggu rakan mereka di luar surau. Saya yang sedang memakai kasut mula bertegur sapa. Saya bertanya kepada mereka, kenapa mereka tidak solat sekali dengan rakan-rakan yang lain. Agak menkjubkan jawapan mereka. Si lelaki mengatakan ia berseluar jeans. Kotor berpeluh. Di dalam Surau tiada kain pelikat katanya. Yang si perempuan pula berkata. Saya tidak membawa telekung.Lagipun telekung di dalam surau tu dah terlalu kuning lusuh warnanya.

Sekali lagi berbagai persoalan yang timbul di benak saya. Saya masih mengambil yang postitif…MEREKA MEMENTINGKAN KEBERSIHAN UNTUK BERTEMU ALLAH!!…

Islam itu mudah dan ia tidak menyukarkan umatnya. Malah ianya meraikan semua golongan bangsa dan warna kulit. Budaya sesuatu bangsa itu terbentuk hasil daripada sudut pandang nilai yang sama.


Kehidupan masakini berbeza dengan suatu ketika dahulu. Perubahan zaman dengan corak kehidupan yang lebih pantas dan memerlukan pergerakan yang lebih luas membuatkan beberapa isu budaya yang perlu diubah. Masyarakat terutamanya wanita yang dilihat kini lebih banyak berurusan dengan situasi kerja dan urusan harian membuatkan beberapa kesukaran terjadi akibat keterikatan dengan budaya masa lampau.

Pemakaian telekung adalah satu struktur budaya keagamaan yang dibentuk dalam komuniti masyarakat Islam di Nusantara. Ianya terbukti suatu yang amat baik jika dilihat dari aspek kesempurnaan ibadah. Para ulama Melayu dahulu amat teliti dalam memastikan kesempurnaan ibadah umat ketika itu. Pemilihan bentuk telekung yang longgar, lebar dan mudah disarung menjadikannya sesuai untuk semua generasi umur dan bentuk badan. Ini bersesuaian den

gan arahan Allah SWT di dalam al-Quran yang menghendaki kita memakai pakaian yang baik ketika mendirikan solat. Di dalam surah al-A’raaf ayat 31 yang bermaksud :

“Hai anak Adam, pakailah perhiasanmu(pakaian) yang indah di setiap kali kamu ( memasuki ) masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih lebihan.”


Menurut Syeikh Khatib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni Muhtaj telah menguatkan pendapat daripada Ibn Abbas RA mengatakan bahawa maksud memakai pakaian yang indah setiap kali memasuki masjid ini adalah merujuk kepada pakaian ketika sembahyang.


Ibnu Hazm pula memahami maksud ‘perhiasan’ disini adalah menutup aurat

Manakala Imam Ibn Kathir, telah memetik riwayat Imam Muslim mengatakan bahawa ayat ini merupakan bantahan atas tindakan orang-orang musyrik yang dengan sengaja mengerjakan tawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang. Ianya juga menunjukkan memberi pengertian lain iaitu disunnahkan menghias diri ketika hendak menunaikan sembahyang lebih-lebih lagi pada hari Jumaat dan Hari Raya. Juga disunnahkan memakai wangi-wangian kerana ia juga termasuk daripada perhiasan.

Malah boleh juga kita mengenakan pakaian yang berjenama asalkan tidak mendatangkan rasa takabbur. Ini sepertimana yang diberitahu oleh Qatadah yang meriwayatkan dari Muhammad Ibnu Sirin bahawa sahabat Nabi SAW Tamim ad-Dari pernah membeli sebuah rida’ ( selendang atau serban) dengan harga seribu, lalu ia mengerjakan sembahyang dengan mengenakannya.

Ulama Melayu dahulu amat bijak dalam membentuk budaya corak berpakaian yang baik kepada umat Islam di Nusantara. Mereka juga telah memilih warna putih sebagai warna rasmi kepada telekung. Ini juga bersesuaian dengan kehendak sunnah yang amat disukai oleh Baginda Nabi SAW dalam memilih warna pakaian yang terbaik. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Ibnu Abbas di dalam hadis marfu’, Rasulullah SAW bersabda :


“Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih. Kerana sesunggunya ia adalah sebaik-baik pakaian kalian. Dan kafanilah orang-orang yang mati dikalangan kalian dengannya.”


Pembentukan budaya pemakaian telekung ini membuatkan Umat Islam di Nusantara agak janggal untuk memilih pakaian yang berlawanan dengan adat budaya yang telah dibentuk sejak sekian lama.

Budaya yang baik pada asalnya ini sedikit sebanyak mula mendatangkan kesan yang agak negatif kepada wanita Islam masakini yang bergerak aktif dalah kehidupan seharian. Ini kerana pemahaman budaya tersebut telah disalah ertikan oleh wanita kini tanpa melihat dari aspek imu Islam yang sebenar.

Disebabkan itulah muncul pelbagai alasan yang tidak munasabah apabila tibanya waktu solat. Ada sebahagian wanita yang mengabaikan solat apabila berada di luar rumah contohnya di pusat membeli belah, tempat kerja dan sebagainya dengan beralasan tidak membawa telekung. Ada juga yang memberi alasan telekung yang disediakan di masjid mahupun surau itu agak kotor dan tidak sesuai.

Sedangkan pemakaian telekung itu bukanlah syarat sahnya solat seseorang wanita. Bagaimana keadaan wanita yang berada di luar daripada Negara Nusantara. Mereka tidak pernah mengenal erti telekung. Disebabkan itulah ramai dikalangan wanita Nusantara merasa pelik dengan pakaian wanita Muslimah di Negara barat. Muslimah di China, India mahupun Timur Tengah.

Sebenarnya syarat dalam pakaian sembahyang adalah cukup dengan menutup aurat dan hendaklah pakaian itu bersih dari sebarang najis. Bukanlah telekung berwarna putih itu menjadi syarat sahnya sembahyang.

Andainya seorang wanita itu berpakaian baju kurung atau pakaian yang menepati syarat aurat, walaupun ianya berwarna warni, maka tetap sah solat mereka. Menurut Jumhur Ulama yang diwajibkan wanita dalam solat adalah memakai baju dan tudung kepala. Maka Ibnu Munzir berpendapat, “Jika kain yang dipakai cukup luas lalu ia menutupi kepalanya dengan kelebihan kain itu, maka ianya dibolehkan.

Aurat wanita ketika sembahyang sama sahaja seperti aurat wanita di luar sembahyang. Sepertimana batasan aurat wanita yang digunapakai oleh masyarakat di Malaysia dengan merujuk kepada pandangan Mazhab Syafie iaitu seluruh badan kecuali muka dan tapak tangan. Berasaskan kepada pandangan ini, tidak semestinya telekung sahaja yang boleh dijadikan pakaian sembahyang. Baju kurung, jubah, blaus juga boleh dijadikan pakaian sembahyang walaupun ianya bukan berwarna putih.

Manakala bagi lelaki pula, kebersihan, kecantikan dan wangi-wangian menjadikan sembahyang mereka lebih baik pada zahirnya disisi Allah SWT. Ini kerana situasi menghadapi Pencipa Yang Maha Agung itu memerlukan lebih berketerampilan berbanding berhadapan manusia lainnya.

Namun, berpakaian yang elok itu tidaklah semestinya mewajibkan kepada mereka berkain pelekat, berjubah, baju melayu dan sebagainya. Ada juga yang meninggalkan sembahyang kerana beranggapan pakaiannya kotor dengan peluh. Kotor dengan minyak kereta kerana bekerja sebagai mekanik. Kotor dengan lumpur kerana baru pulang dari kebun dan sebagainya.

Sedangkan, syarat sah solat ialah pakaian tersebut hendaklah bebas dari sebarang najis. Kotor tidak bermaksud ianya bernajis. Jadinya disini, seorang yang dalam keadaan berpeluh sesudah bersukan boleh menunaikan solat tanpa menukar pakaiannya.

Di dalam kitab Fathul Bari karangan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani telah mengambil riwayat dari Ibnu Hibban mengatakan bahawa Muawiyah bin Abu Sufyan bahawasanya ia bertanya kepada saudara perempuannya ( Ummu Habibah), “Apakah Rasulullah pernah solat memakai pakaian yang digunakan ketika berhubungan dengan isterinya?” Ummu Habibah menjawab, “Ya, apabila Baginda tidak melihat sebarang kotoran di pakaian tersebut.


Hadis ini menerangkan kepada kita bahawa, selagi pakaian yang dipakai itu tidak jelas padanya najis yang boleh merosakkan solat, maka sah solat yang kita kerjakan dengan berpakaian biasa. Malah remaja lelaki yang berpakaian serba fesyen terkini, samada berseluar jeans, baju yang pelbagai bentuk warna juga boleh mengerjakan sembahyang tanpa merasakan janggal. Kerana Islam tidak pernah menyusahkan untuk melakukan sembahyang.

Ini bukan kempen ‘Tak pakai tudung takpa janji hati baik’. Ini juga bukan kempen menghapuskan pakaian yang indah ketika solat. Namun ini adalah kempen untukmemudahkan solat kepada setiap manusia.

Islam itu mudah. Ianya sesuai dalam kehidupan seharian umat. Allah lebih mengetahui perihal keadaan hamba-hambaNya. Islam tidak hanya meraikan kelompok manusia yang sentiasa berada dalam kelapangan. Ia juga meraikan umat yang sibuk dan penuh dengan tugasan harian. Sembahyanglah anda walau di mana anda berada.


sumber: imam muda asyraf

Tuesday, March 22, 2011

Pertembungan Terbaru Tentera Palestin dan Israel di Silwan

Selasa , 22/03/2011 - Pertempuran sengit berlaku sekali lagi pada Jumaat petang antara pemuda Palestin dan tentera rejim Israel di Silwan, Baitul Maqdis ketika penduduk haram Yahudi meneruskan serangan terhadap penduduk Palestin dan kepentingan Palestin di tempat lain di Tebing Barat.

Radio Hebrew berkata bahawa seorang askar Israek dari pengawal sempadan telah cedera ketika sebuah bom petrol dilempar ke atasnya ketika pertempuran itu. Selain itu, penduduk Yahudi yang bersenjata menyerang bandar di Tebing Barat di bawah perlindungan tentera.

sumber : http://www.palestine-info.co.uk/en/
penterjemah : redz

kredit: http://palestinkini.info/

Thursday, March 10, 2011

The ProductiveMuslim Du'a


I was pondering over a famous Dua (supplication) that the Prophet Muhammad (Peace be upon him) used to say at times of anxiety or sorrow, and I realised how wonderful this dua is for Productive Muslims everywhere.

The dua is:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

‘O Allaah, I take refuge in You from anxiety and sorrow, weakness and laziness, miserliness and cowardice, the burden of debts and from being over powered by men.’

If we look at all the six elements that the Dua above is asking Allah for refuge from, we would realise that all of them are anti-Productivity elements that if removed from our lives we can move forward much quicker and be more productive.

Anxiety & Sorrow:

When you’re sad, bothered, or anxious about something, you cannot be productive as your mind is taken over by what’s bothering you. Your thought process is not devoted to anything else except how to get rid of your anxiety or sorrow. Sometimes these anxieties are small, sometimes they are big, but however big/small they are, the moment these anxieties take over your life and blur your thoughts, then you need to make this dua.

Weakness & Laziness:

Weakness is when you cannot do something, and laziness is when you do NOT want to do something. And the two are inter-linked. Most people who are lazy, end up being weak. Because what started off as something you do not want to do, soon becomes something you cannot do and you end up convincing yourself that you cannot ever do. Again, both these illnesses are elements which you need to ask Allah for help in removing because they are detriment to your quality of life. Imagine not being able to achieve or do anything because you are weak or lazy, how pathetic is that for a Muslim? And as in the famous hadeeth: “Seek help from Allah and do not be weak!” That’s the formula, don’t get yourself to the level of “I cannot do it” but seek help from Allah and anything is possible!

Miserliness & Cowardice:

Productivity requires you to spend, not only money, but money, time, and effort. And spending needs courage, because the miserly are usually cowards who fear poverty or fear lack of resources, but the person with courage moves forward fearing nothing but Allah.

The Burden of Debt & Being Overpowered by Men:

There’s nothing more enslaving than the burden of debt, and that’s why there’s a number of dua that Prophet Muhammad taught his followers to remove such social slavery from his people, including one of my favourite duas: ‘O Allaah, make what is lawful enough for me, as opposed to what is unlawful, and spare me by Your grace, of need of others.’ Moreover, debt can also lead you to being overpowered of men described in the dua, which mainly happens when you owe other people something.


Such a beautiful dua should always be in our prayers and prostrations, as we’re not free from all the elements at any one time. Moreover, if you want to know the cause of the above six diseases, the answer is our sins. Nothing else brings about sadness, anxiety, miserliness, cowardice, weakness, laziness and debt except for our sins, so we need to stay guard by firstly reducing our sins and secondly making the above dua abundantly, always.


Source: productivemuslim.com